|
|
|
|||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|
|
|||||
|
|||||||
| copyright:ana_fiki_sulis @2010 | |||||||
| mahkota giwang bandana bross gelang-kalung sirkam centhung tusuk sanggul lain-lain | |||||||
Jumat, 16 Maret 2012
macam macam sanggul
sanggul cantik nan modern
Aug2009
Posted by
.:Riska
Labels:
Beauty,
Bridal
Lagi bersemangat mau ngomongin soal hair do untuk resepsi. Sekarang
katanya lagi musim model modern dan minimalis dengan konde tinggi
menjulang dan membuat leher semakin jenjang. Hiasannya juga hanya
sebatas aksesoris simple dan bunga mawar tapi tetap membuat sangat
cantik. Malah mua gw juga menyarankan bentuk hair do seperti itu. Ok,
mari kita cek reviewnya:
Hair Do Titi Kamal

Hair do nya so elegante..keyeen abiss. Tapi terlalu menjulang nampaknya. Nah Titi kamal sendiri cocok pake hair do kayak gini karena mukanya bagus, nah gw :D
Accessoriesnya juga menonjol sekali di rambutnya. Tapi sangat cucok dengan kebaya gold yang dikenakan.
Hair Do Meta - Prewed

Kurang lebih typenya sama dengan hair Titi Kamal, namun ornamen gold di rambutnya nda terlalu menonjol di banding Tikam. So simple and tetap elegant. me like it.
Hair Do Meta - reception

Simply the best, sesuai ulasan sebelumnya di sini. Me like it so much. Keyeeeeen.
Hair Do Maylaffaiza

Tetep sih, model hair do yang modern, minimalis but elegant ini nampak sangat cucok pada Maylaffaiza. Cuma entah kenapa bentuk wajah gw sepertinya nda cucok dengan model hair do nya Maylaffaiza. nanti pipi tembem gw tampak terlihat lebar ^^
Hair Do - Manohara
Simple
banget, dengan hiasan minimalis. Apalagi modelnya juga cantik. Tapi
untuk gw, akan sangat tinggi menjulang, dan nda cocok di wajah gw.
Hair Do Bunga Citra Lestari




Hair Do Titi Kamal

Hair do nya so elegante..keyeen abiss. Tapi terlalu menjulang nampaknya. Nah Titi kamal sendiri cocok pake hair do kayak gini karena mukanya bagus, nah gw :D
Accessoriesnya juga menonjol sekali di rambutnya. Tapi sangat cucok dengan kebaya gold yang dikenakan.
Hair Do Meta - Prewed

Kurang lebih typenya sama dengan hair Titi Kamal, namun ornamen gold di rambutnya nda terlalu menonjol di banding Tikam. So simple and tetap elegant. me like it.
Hair Do Meta - reception

Simply the best, sesuai ulasan sebelumnya di sini. Me like it so much. Keyeeeeen.
Hair Do Maylaffaiza

Tetep sih, model hair do yang modern, minimalis but elegant ini nampak sangat cucok pada Maylaffaiza. Cuma entah kenapa bentuk wajah gw sepertinya nda cucok dengan model hair do nya Maylaffaiza. nanti pipi tembem gw tampak terlihat lebar ^^
Hair Do - Manohara
Simple
banget, dengan hiasan minimalis. Apalagi modelnya juga cantik. Tapi
untuk gw, akan sangat tinggi menjulang, dan nda cocok di wajah gw.Hair Do Bunga Citra Lestari




sutra laba laba
Gaun yang terbuat dari "sutra" laba-laba. Untuk satu ons sutera, diperlukan 23 ribu laba-laba. (Daily Mail)
Topik
Foto Terkait
Rabu, 25 Januari 2012 | 11:04 WIB
Inilah Gaun dari Sejuta Laba-laba
TEMPO.CO, London
- Berwarna kuning keemasan, gaun sutera ini terbuat dari bahan yang tak
biasa. Sejuta laba-laba dikorbankan untuk membuat busana yang bakal
segera dipamerkan di Eropa untuk pertama kalinya pekan ini pada Januari
2012.
Sedikitnya, waktu selama empat tahun diperlukan untuk membuat satu gaun. Sebanyak 80 orang pekerja terlibat dalam proses pembuatannya. Setiap pagi tim menjelajahi dataran tinggi Madagaskar untuk mencari laba-laba jenis Golden Orb betina, bahan utama baju berbentuk jubah ini.
Setelah proses pengumpulan selesai, dilanjutkan dengan proses yang disebut "penyuteraan", yakni 24 laba-laba akan dipaksa menghasilkan serat sutera oleh tenaga terlatih sebelum kembali dilepas ke alam bebas.
Selembar benang sutera tipis terbuat atas 96 helai sutera yang dihasilkan selama proses penyuteraan. Untuk satu ons sutera diperlukan 23 ribu laba-laba.
Kain tenunan yang dihasilkan secara alami berwarna keemasan. Simon Peers dan Nicholas Godley, dua ekspatriat di Madagaskar, bertanggung jawab untuk desainnya.
Terinspirasi oleh industri rumahan masyarakat setempat pada abad ke-19, mereka ingin menghidupkan kembali tradisi yang hilang ini. "Kami ingin menunjukkan tekstil sutera laba-laba di London agar publik tahu ini sebuah mahakarya," kata Simon.
Tekstil sutera laba-laba pertama kali ditampilkan di Museum Sejarah Alam di New York pada 2009. Saat itu, ajang ini memecahkan rekor untuk jumlah pengunjung ke sebuah pameran tunggal. Sejak lama hanya ada sedikit eksperimen tekstil dengan sutera laba-laba dan tidak ada upaya serius untuk menenunnya sejak tahun 1900.
Publikasi secara internasional tentang sutera ini pertama kali muncul dari pengembara Prancis, Francois-Xavier Bon de Saint Hilaire. Melalui tulisannya, ia menggambarkan bagaimana kain bisa berputar dari sutera laba-laba pada tahun 1709.
Dalam catatannya, Francois menceritakan bagaimana proses pembuatan kain sutra: dari merebus kepompong, kemudian mengekstraksi benang dengan sisir untuk membuat kaus kaki, sarung tangan, dan pakaian untuk Raja Louis XIV.
TRIP B
Berita Terpopuler Lainnya:
Sedikitnya, waktu selama empat tahun diperlukan untuk membuat satu gaun. Sebanyak 80 orang pekerja terlibat dalam proses pembuatannya. Setiap pagi tim menjelajahi dataran tinggi Madagaskar untuk mencari laba-laba jenis Golden Orb betina, bahan utama baju berbentuk jubah ini.
Setelah proses pengumpulan selesai, dilanjutkan dengan proses yang disebut "penyuteraan", yakni 24 laba-laba akan dipaksa menghasilkan serat sutera oleh tenaga terlatih sebelum kembali dilepas ke alam bebas.
Selembar benang sutera tipis terbuat atas 96 helai sutera yang dihasilkan selama proses penyuteraan. Untuk satu ons sutera diperlukan 23 ribu laba-laba.
Kain tenunan yang dihasilkan secara alami berwarna keemasan. Simon Peers dan Nicholas Godley, dua ekspatriat di Madagaskar, bertanggung jawab untuk desainnya.
Terinspirasi oleh industri rumahan masyarakat setempat pada abad ke-19, mereka ingin menghidupkan kembali tradisi yang hilang ini. "Kami ingin menunjukkan tekstil sutera laba-laba di London agar publik tahu ini sebuah mahakarya," kata Simon.
Tekstil sutera laba-laba pertama kali ditampilkan di Museum Sejarah Alam di New York pada 2009. Saat itu, ajang ini memecahkan rekor untuk jumlah pengunjung ke sebuah pameran tunggal. Sejak lama hanya ada sedikit eksperimen tekstil dengan sutera laba-laba dan tidak ada upaya serius untuk menenunnya sejak tahun 1900.
Publikasi secara internasional tentang sutera ini pertama kali muncul dari pengembara Prancis, Francois-Xavier Bon de Saint Hilaire. Melalui tulisannya, ia menggambarkan bagaimana kain bisa berputar dari sutera laba-laba pada tahun 1709.
Dalam catatannya, Francois menceritakan bagaimana proses pembuatan kain sutra: dari merebus kepompong, kemudian mengekstraksi benang dengan sisir untuk membuat kaus kaki, sarung tangan, dan pakaian untuk Raja Louis XIV.
TRIP B
Berita Terpopuler Lainnya:
busana indah dri batik
Model Busana Batik Terpopuler
Batik adalah teknik pembuatan corak menggunakan canting atau cap dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak "malam" (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi kebudayaan raja-raja jaman dahulu. Pada saat ini batik telah menjadi busana yang populer karena telah ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009. Sehingga pemerintah Indonesia telah menetapkan hari Jumat sebagai hari batik sehingga masyarakat diharapkan memakai baju batik. Pada saat ini busana batik telah berkembang menjadi busana yang modern dengan corak dan motif yang unik dan menarik. Busana batik bisa dipakai untuk acara resmi, acara tidak formal, hingga ke acara pesta pernikahan.
Berikut ini model busana batik terpopuler :Pada saat ini busana batik telah terkenal hingga seluruh dunia sebagai warisan budaya Indonesia. Jika Anda memakai busana batik yang modern dan mengendarai mobil terlaris maka akan membuat Anda akan tampil menarik. Pakaian yang dipakai juga menentukan penampilan Anda menarik atau tidak.
- Batik Kantoran Modern
Busana batik yang dibuat untuk orang yang bekerja kantoran dengan motif dan model yang modern mengikuti perkembangan zaman yang terjadi. Tersedia dalam ukuran M dan L. Busana ini dibuat dengan lengan 3/4, kancing depan dan motif cerah.- Batik Sarimbit Dress
Batik sarimbit dress adalah kombinasi kain sutra dengan karet belakang, lengan 3/4, dan variasi bross. Busana ini cocok untuk seragam keluarga sehingga disediakan untuk pasangan dengan motif yang sama.- Batik Wanita Modern
Busana batik ini dibuat untuk wanita, bajunya berlengan panjang dan berkancing depan. Tersedia dalam ukuran M dan L. Motif dan modelnya pun dibuat modern mengikuti perkembangan zaman.- Dress Batik Modern
Busana yang ditujukan untuk wanita yang dibuat dalam model dress, kombinasi kerah samping, variasi bross, dan karet belakang. Tersedia dalam ukuran M dan L.- Gaun Batik Modern
Gaun batik ini terbuat dari kombinasi kain sutra, karet belakang, lengan 3/4 dan variasi bross. Tersedia dalam ukuran M, L, dan XL.- Blus Batik
Busana ini terbuat dari kombinasi kain polos dengan lengan yang bisa dilipat. Tersedia dengan motif kembang yang menunjukkan sosok feminim bagi wanita dan tersedia dalam warna coklat, hijau, ungu, dan krem.- Rompi Batik
Rompi terbuat dari bahan katun. Kombinasi dua motif batik kontemporer dengan warna-warna cerah menarik. Model unik, dengan hoodie unik. Cocok dipakai untuk hangout namun tetap anggun dan modis, tersedia dalam beberapa warna.- Rok Batik Panjang
Rok batik panjang yang santai terbuat dari motif batik perca terdiri dari beberapa motif yang menarik. Dengan model karet dihiasi tali di bagian pinggang dan terbuat dari bahan paris yang mewah dan nyaman dipadupadankan untuk acara spesial.
kimono dri sutra
Kimono
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Uchikake bermotif burung jenjang
Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf "T", mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zōri atau geta.
Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode.[1] Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono.[2] Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).
Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode). Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkan furisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.
Sebagai pembeda dari pakaian Barat (yōfuku) yang dikenal sejak zaman Meiji, orang Jepang menyebut pakaian tradisional Jepang sebagai wafuku (和服?, pakaian Jepang). Sebelum dikenalnya pakaian Barat, semua pakaian yang dipakai orang Jepang disebut kimono. Sebutan lain untuk kimono adalah gofuku (呉服?). Istilah gofuku mulanya dipakai untuk menyebut pakaian orang negara Dong Wu (bahasa Jepang : negara Go) yang tiba di Jepang dari daratan Cina.
Daftar isi[sembunyikan] |
[sunting] Kimono wanita
Pemilihan jenis kimono yang tepat memerlukan pengetahuan mengenai simbolisme dan isyarat terselubung yang dikandung masing-masing jenis kimono. Tingkat formalitas kimono wanita ditentukan oleh pola tenunan dan warna, mulai dari kimono paling formal hingga kimono santai. Berdasarkan jenis kimono yang dipakai, kimono bisa menunjukkan umur pemakai, status perkawinan, dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.- Tomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam). Kurotomesode memiliki lambang keluarga (kamon) di tiga tempat: 1 di punggung, 2 di dada bagian atas (kanan/kiri), dan 2 bagian belakang lengan (kanan/kiri). Ciri khas kurotomesode adalah motif indah pada suso (bagian bawah sekitar kaki) depan dan belakang. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.
Gadis mengenakan furisode
- Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Bergantung kepada tingkat formalitas acara, pemakai bisa memilih jumlah lambang keluarga pada kain kimono, mulai dari satu, tiga, hingga lima buah untuk acara yang sangat formal. Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar. Sama halnya seperti kurotomesode, ciri khas irotomesode adalah motif indah pada suso.
- Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atau hatsumode. Pakaian pengantin wanita yang disebut hanayome ishō termasuk salah satu jenis furisode.
- Hōmon-gi (訪問着?, arti harfiah: baju untuk berkunjung) adalah kimono formal untuk wanita, sudah menikah atau belum menikah. Pemakainya bebas memilih untuk memakai bahan yang bergambar lambang keluarga atau tidak. Ciri khas homongi adalah motif di seluruh bagian kain, depan dan belakang. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.[3]
- Iromuji adalah kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Sesuai dengan tingkat formalitas kimono, lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada). Iromoji dibuat dari bahan tidak bermotif dan bahan-bahan berwarna lembut, merah jambu, biru muda, atau kuning muda atau warna-warna lembut. Iromuji dengan lambang keluarga di 5 tempat dapat dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga.
- Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Menurut tingkatan formalitas, kedudukan tsukesage hanya setingkat dibawah homongi. Kimono jenis ini tidak memiliki lambang keluarga. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.[3]
- Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas kimono jenis ini adalah motif sederhana dan berukuran kecil-kecil yang berulang.[3] Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.
- Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Walaupun demikian, kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti ketika berbelanja dan berjalan-jalan. Bahan yang dipakai adalah kain hasil tenunan sederhana dari benang katun atau benang sutra kelas rendah yang tebal dan kasar.[3] Kimono jenis ini tahan lama, dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.
- Yukata adalah kimono santai yang dibuat dari kain katun tipis tanpa pelapis untuk kesempatan santai di musim panas.
[sunting] Kimono pria
Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam.- Bagian punggung montsuki dihiasi lambang keluarga pemakai. Setelan montsuki yang dikenakan bersama hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional. Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.
- Kimono santai kinagashi
- Pria mengenakan kinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Aktor kabuki mengenakannya ketika berlatih. Kimono jenis ini tidak dihiasi dengan lambang keluarga.
[sunting] Sejarah
[sunting] Zaman Jomon dan zaman Yayoi
Pakaian wanita pada sekitar tahun 1870
Dalam Gishiwajinden (buku sejarah Cina mengenai tiga negara) ditulis tentang pakaian sederhana untuk laki-laki. Sehelai kain diselempangkan secara horizontal pada tubuh pria seperti pakaian biksu, dan sehelai kain dililitkan di kepala. Pakaian wanita dinamakan kantoi. Di tengah sehelai kain dibuat lubang untuk memasukkan kepala. Tali digunakan sebagai pengikat di bagian pinggang.
Masih menurut Gishiwajinden, kaisar wanita bernama Himiko dari Yamataikoku (sebutan zaman dulu untuk Jepang) "selalu mengenakan pakaian kantoi berwarna putih". Serat rami merupakan bahan pakaian untuk rakyat biasa, sementara orang berpangkat mengenakan kain sutra.
[sunting] Zaman Kofun
Pakaian zaman Kofun mendapat pengaruh dari daratan Cina, dan terdiri dari dua potong pakaian: pakaian atas dan pakaian bawah. Haniwa mengenakan baju atas seperti mantel yang dipakai menutupi kantoi. Pakaian bagian bawah berupa rok yang dililitkan di pinggang. Dari penemuan haniwa terlihat pakaian berupa celana berpipa lebar seperti hakama.Pada zaman Kofun mulai dikenal pakaian yang dijahit. Bagian depan kantoi dibuat terbuka dan lengan baju bagian bawah mulai dijahit agar mudah dipakai. Selanjutnya, baju atas terdiri dari dua jenis kerah:
- Kerah datar sampai persis di bawah leher (agekubi)
- Kerah berbentuk huruf "V" (tarekubi) yang dipertemukan di bagian dada.
[sunting] Zaman Nara
Aristokrat zaman Asuka bernama Pangeran Shotoku menetapkan dua belas strata jabatan dalam istana kaisar (kan-i jūnikai). Pejabat istana dibedakan menurut warna hiasan penutup kepala (kanmuri). Dalam kitab hukum Taiho Ritsuryo dimuat peraturan tentang busana resmi, busana pegawai istana, dan pakaian seragam dalam istana. Pakaian formal yang dikenakan pejabat sipil (bunkan) dijahit di bagian bawah ketiak. Pejabat militer mengenakan pakaian formal yang tidak dijahit di bagian bawah ketiak agar pemakainya bebas bergerak. Busana dan aksesori zaman Nara banyak dipengaruhi budaya Cina yang masuk ke Jepang. Pengaruh budaya Dinasti Tang ikut memopulerkan baju berlengan sempit yang disebut kosode untuk dikenakan sebagai pakaian dalam.Pada zaman Nara terjadi perubahan dalam cara mengenakan kimono. Kalau sebelumnya kerah bagian kiri harus berada di bawah kerah bagian kanan, sejak zaman Nara, kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Cara mengenakan kimono dari zaman Nara terus dipertahankan hingga kini. Hanya orang meninggal dipakaikan kimono dengan kerah kiri berada di bawah kerah kanan.
[sunting] Zaman Heian
Menurut aristokrat Sugawara Michizane, penghentian pengiriman utusan Jepang untuk Dinasti Tang (kentoshi) memicu pertumbuhan budaya lokal. Tata cara berbusana dan standardisasi protokol untuk upacara-upacara formal mulai ditetapkan secara resmi. Ketetapan tersebut berakibat semakin rumitnya tata busana zaman Heian. Wanita zaman Heian mengenakan pakaian berlapis-lapis yang disebut jūnihitoe. Tidak hanya wanita zaman Heian, pakaian formal untuk militer juga menjadi tidak praktis.Ada tiga jenis pakaian untuk pejabat pria pada zaman Heian:
- Sokutai (pakaian upacara resmi berupa setelan lengkap)
- I-kan (pakaian untuk tugas resmi sehari-hari yang sedikit lebih ringan dari sokutai)
- Noshi (pakaian untuk kesempatan pribadi yang terlihat mirip dengan i-kan).
Pada zaman Heian terjadi pengambilalihan kekuasaan oleh kalangan samurai, dan bangsawan istana dijauhkan dari dunia politik. Pakaian yang dulunya merupakan simbol status bangsawan istana dijadikan simbol status kalangan samurai.
[sunting] Zaman Kamakura dan zaman Muromachi
Pada zaman Sengoku, kekuasaan pemerintahan berada di tangan samurai. Samurai mengenakan pakaian yang disebut suikan. Pakaian jenis ini nantinya berubah menjadi pakaian yang disebut hitatare. Pada zaman Muromachi, hitatare merupakan pakaian resmi samurai. Pada zaman Muromachi dikenal kimono yang disebut suō (素襖?), yakni sejenis hitatare yang tidak menggunakan kain pelapis dalam. Ciri khas suō adalah lambang keluarga dalam ukuran besar di delapan tempat.Pakaian wanita juga makin sederhana. Rok bawah yang disebut mo (裳?) makin pendek sebelum diganti dengan hakama. Setelan mo dan hakama akhirnya hilang sebelum diganti dengan kimono model terusan, dan kemudian kimono wanita yang disebut kosode. Wanita mengenakan kosode dengan kain yang dililitkan di sekitar pinggang (koshimaki) dan/atau yumaki. Mantel panjang yang disebut uchikake dipakai setelah memakai kosode.
[sunting] Awal zaman Edo
Penyederhaan pakaian samurai berlanjut hingga zaman Edo. Pakaian samurai zaman Edo adalah setelan berpundak lebar yang disebut kamishimo (裃?). Satu setel kamishimo terdiri dari kataginu (肩衣?) dan hakama. Di kalangan wanita, kosode menjadi semakin populer sebagai simbol budaya orang kota yang mengikuti tren busana.Zaman Edo adalah zaman keemasan panggung sandiwara kabuki. Penemuan cara penggandaan lukisan berwarna-warni yang disebut nishiki-e atau ukiyo-e mendorong makin banyaknya lukisan pemeran kabuki yang mengenakan kimono mahal dan gemerlap. Pakaian orang kota pun cenderung makin mewah karena iking meniru pakaian aktor kabuki.
Kecenderungan orang kota berpakaian semakin bagus dan jauh dari norma konfusianisme ingin dibatasi oleh Keshogunan Edo. Secara bertahap pemerintah keshogunan memaksakan kenyaku-rei, yakni norma kehidupan sederhana yang pantas. Pemaksaan tersebut gagal karena keinginan rakyat untuk berpakaian bagus tidak bisa dibendung. Tradisi upacara minum teh menjadi sebab kegagalan kenyaku-rei. Orang menghadiri upacara minum teh memakai kimono yang terlihat sederhana namun ternyata berharga mahal.
Tali pinggang kumihimo dan gaya mengikat obi di punggung mulai dikenal sejak zaman Edo. Hingga kini, keduanya bertahan sebagai aksesori sewaktu mengenakan kimono.
[sunting] Akhir zaman Edo
Politik isolasi (sakoku) membuat terhentinya impor benang sutra. Kimono mulai dibuat dari benang sutra produksi dalam negeri. Pakaian rakyat dibuat dari kain sutra jenis crape lebih murah. Setelah terjadi kelaparan zaman Temmei (1783-1788), Keshogunan Edo pada tahun 1785 melarang rakyat untuk mengenakan kimono dari sutra. Pakaian orang kota dibuat dari kain katun atau kain rami. Kimono berlengan lebar yang merupakan bentuk awal dari furisode populer di kalangan wanita.[sunting] Zaman Meiji dan zaman Taisho
Industri berkembang maju pada zaman Meiji. Produksi sutra meningkat, dan Jepang menjadi eksportir sutra terbesar. Harga kain sutra tidak lagi mahal, dan mulai dikenal berjenis-jenis kain sutra. Peraturan pemakaian benang sutra dinyatakan tidak berlaku. Kimono untuk wanita mulai dibuat dari berbagai macam jenis kain sutra. Industri pemintalan sutra didirikan di berbagai tempat di Jepang. Sejalan dengan pesatnya perkembangan industri pemintalan, industri tekstil benang sutra ikut berkembang. Produknya berupa berbagai kain sutra, mulai dari kain krep, rinzu, omeshi, hingga meisen.Tersedianya beraneka jenis kain yang dapat diproses menyebabkan berkembangnya teknik pencelupan kain. Pada zaman Meiji mulai dikenal teknik yuzen, yakni menggambar dengan kuas untuk menghasilkan corak kain di atas kain kimono.
Sementara itu, wanita kalangan atas masih menggemari kain sutra yang bermotif garis-garis dan susunan gambar yang sangat rumit dan halus. Mereka mengenakan kimono dari model kain yang sudah populer sejak zaman Edo sebagai pakaian terbaik sewaktu menghadiri acara istimewa. Hampir pada waktu yang bersamaan, kain sutra hasil tenunan benang berwarna-warni hasil pencelupan mulai disukai orang.
Tidak lama setelah pakaian impor dari Barat mulai masuk ke Jepang, penjahit lokal mulai bisa membuat pakaian Barat. Sejak itu pula, istilah wafuku dipakai untuk membedakan pakaian yang selama ini dipakai orang Jepang dengan pakaian dari Barat. Ketika pakaian Barat mulai dikenal di Jepang, kalangan atas memakai pakaian Barat yang dipinjam dari toko persewaan pakaian Barat.
Di era modernisasi Meiji, bangsawan istana mengganti kimono dengan pakaian Barat supaya tidak dianggap kuno. Walaupun demikian, orang kota yang ingin melestarikan tradisi estetika keindahan tradisional tidak menjadi terpengaruh. Orang kota tetap berusaha mempertahankan kimono dan tradisi yang dipelihara sejak zaman Edo. Sebagian besar pria zaman Meiji masih memakai kimono untuk pakaian sehari-hari. Setelan jas sebagai busana formal pria juga mulai populer. Sebagian besar wanita zaman Meiji masih mengenakan kimono, kecuali wanita bangsawan dan guru wanita yang bertugas mengajar anak-anak perempuan.
Seragam militer dikenakan oleh laki-laki yang mengikuti dinas militer. Seragam tentara angkatan darat menjadi model untuk seragam sekolah anak laki-laki. Seragam anak sekolah juga menggunakan model kerah berdiri yang mengelilingi leher dan tidak jatuh ke pundak (stand-up collar) persis model kerah seragam tentara. Pada akhir zaman Taisho, pemerintah menjalankan kebijakan mobilisasi. Seragam anak sekolah perempuan diganti dari andonbakama (kimono dan hakama) menjadi pakaian Barat yang disebut serafuku (sailor fuku), yakni setelan blus mirip pakaian pelaut dan rok.
[sunting] Zaman Showa
Semasa perang, pemerintah membagikan pakaian seragam untuk penduduk laki-laki. Pakaian seragam untuk laki-laki disebut kokumin fuku (seragam rakyat). Wanita dipaksa memakai monpei yang berbentuk seperti celana panjang untuk kerja dengan karet di bagian pergelangan kaki.Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, wanita Jepang mulai kembali mengenakan kimono sebelum akhirnya ditinggalkan karena tuntutan modernisasi. Dibandingan kerumitan memakai kimono, pakaian Barat dianggap lebih praktis sebagai pakaian sehari-hari.
Hingga pertengahan tahun 1960-an, kimono masih banyak dipakai wanita Jepang sebagai pakaian sehari-hari. Pada saat itu, kepopuleran kimono terangkat kembali setelah diperkenalkannya kimono berwarna-warni dari bahan wol. Wanita zaman itu menyukai kimono dari wol sebagai pakaian untuk kesempatan santai.
Setelah kimono tidak lagi populer, pedagang kimono mencoba berbagai macam strategi untuk meningkatkan angka penjualan kimono. Salah satu di antaranya dengan mengeluarkan "peraturan mengenakan kimono" yang disebut yakusoku. Menurut peraturan tersebut, kimono jenis tertentu dikatakan hanya cocok dengan aksesori tertentu. Maksudnya untuk mendikte pembeli agar membeli sebanyak mungkin barang. Strategi tersebut ternyata tidak disukai konsumen, dan minat masyarakat terhadap kimono makin menurun. Walaupun pedagang kimono melakukan promosi besar-besaran, opini "memakai kimono itu ruwet" sudah terbentuk di tengah masyarakat Jepang.
Hingga tahun 1960-an, kimono masih dipakai pria sebagai pakaian santai di rumah. Gambar pria yang mengenakan kimono di rumah masih bisa dilihat dalam berbagai manga terbitan tahun 1970-an. Namun sekarang ini, kimono tidak dikenakan pria sebagai pakaian di rumah, kecuali samue yang dikenakan para perajin.
[sunting] Bisnis kimono
Bahan kain kimono adalah hasil dari kesenian tenun tradisional Jepang yang bernilai seni. Kimono untuk kesempatan formal hanya dibuat dari kain sutra kelas terbaik dan hanya dijahit dengan tangan (tidak memakai mesin jahit). Oleh karena itu, harga kimono sering menjadi sangat mahal. Kimono umumnya tidak pernah dijual dalam keadaan jadi, melainkan harus dipesan dan dijahit sesuai dengan ukuran badan pemakai.Sewaktu membeli kain, tinggi badan pemakai tidak diperhitungkan. Bahan kimono dibeli dalam satu gulungan kain yang ditenun dengan sempurna tanpa cacat. Membeli kimono dimulai dengan pemilihan bahan kain kimono yang disebut tanmono (反物?, arti harfiah: gulungan kain dengan panjang 1 tan, atau sekitar 10,6 m). Bila kebetulan pemakai kimono bertubuh pendek dan ramping, setelah kimono selesai dijahit akan banyak bahan kimono yang tersisa. Sisa bahan kimono bisa dimanfaatkan untuk membuat aksesori pelengkap kimono, seperti tas, dompet, atau sandal.
Kain kimono dapat dibeli dengan harga lebih murah pada kesempatan obral bahan kelas dua yang disebut B-tan ichi (B反市?, arti harfiah: pasar kain kelas B) untuk membedakannya dari bahan kimono kelas A yang ditenun sempurna tanpa cacat. Walaupun bahan kain yang dibeli memiliki sedikit cacat, penjahit kimono yang berpengalaman dapat menyembunyikan bagian tenunan yang rusak. Setelah jadi, kimono dari pasar kain kelas B mungkin akan terlihat sama dengan kimono dari bahan sempurna.
Kimono yang dijahit dari bahan berkualitas tinggi merupakan benda warisan keluarga. Kimono bekas pakai masih mempunyai nilai jual tinggi, terutama karena ukuran kimono dapat disesuaikan dengan ukuran badan pemilik yang baru. Di Jepang bisa dijumpai toko-toko yang menjual kimono bekas pakai. Semasa Perang Dunia II, kimono pernah digunakan sebagai alat pembayaran sewaktu penduduk kota kekurangan pangan. Uangnya dipakai untuk membeli beras, telur, dan bumbu dapur seperti miso, dan gula.
Sanggul betawi
Betawi
Tata Rias adat betawi
Sanggul Care Betawi
Tatanan rambut bagi kaum wanita khas Betawi. Dalam masyarakat Betawi dikenal beberapa jenis sanggul, yaitu:
1. Sanggul buatun: umumnya dipakai oleh penganten dengan pakaian besar pada waktu resepsi pernikahan. Dalam pemakaian sanggul ini dilengkapi dengan sanggul pengantin besar, seperti paku-paku, kembang goyang, hong, dsb. Cara membuatnya; dapat dengan rambut sendiri kalau panjang atau dibantu cemara 100 cm, sanggul dibentuk melilit dari atas ke bawah arah kiri ke kanan dan posisi sanggul agak tinggi bentuknya seperti stupa. Rambut tanpa sasak, di dalam sanggul diberikan irisan pandan dan pelepah pisang untuk memberikan penusukan aksesoris.
2. Sanggul Sawi: Umumnya dipakai para pendamping penganten pada saat mendampingi pengantin, pengantin dalam pakaian rias bakal pada waktu akad nikah, wanita muda sebagai pelengkap kebaya krancang atau kebaya encim. Pada saat memakai perhiasan rangkaian melati yang dililitkan di sekeliling sanggul dan kembang goyang.
Cara membuat; dapat dirangkai dengan rambut sendiri atau cemara. Dibuat serupa sawi asin dengan membagi rambut menjadi tiga bagian. Sigar dan buntut bebek lebih kelihatan. Tinggi sanggul sekitar 5 jari dari tengkuk.
3. Sanggul Cepol: Umumnya dipakai oleh gadis muda sebagai pelengkap baju none, kebaya encim, atau kebaya krancang Betawi dengan memakai hiasan roje melati disamping kanan sanggul. Cara membuat; dengan rambut sendiri ataupun cemara, batas sanggul setinggi ujung telinga dan dapat disasak sedikit.
4. Sanggul Bunder: Umumnya dipakai ibu muda hingga setengah baya sebagai pelengkap kebaya krancang, pendek ataupun panjang, pemakaian sanggul ini dilengkap dengan tusuk konde 2 buah kiri kanan. Cara membuat sanggul bunder yaitu: dengan menggunakan rambut sendiri ataupun cemara, memakai sigar sedikit namun bentuknya tidak melebar agar bunder tetapi menonjol di bagian tengahnya. Rambut untuk membentuk sanggul ini harus disasak terlebih dahulu:
5. Sanggul Sisir: Umumnya dipakai oleh orang tua dengan memakai kebaya pendek yang tidak dikrancang. Sanggul ini tidak memerlukan perhiasan tambahan karena digunakan di rumah. Cara membuatnya; menggunakan rambut sendiri jika panjang ataupun cemara, kemudian rambut diikat dan diatasnya diletakkan sisir, bila rambut tebal sebaiknya dipilin agar kelihatan kecil, bentuk sanggul ini tidak besar.
6. Sanggul Dua (sanggul Berunding): Umumnya dipakai oleh wanita muda sebagai pelengkap kebaya encim, kebaya none atau kebaya panjang, dilengkapi dengan perhiasan rose (mawar) warna merah di sebelah kanan. Cara membuatnya: Rambut sendiri jika panjang atau dapat menggunakan cemara. Kemudian rambut dibelah tengah hingga ke belakang, kedua bagian rambut diatur dan diberi jepit pada atas telinga kiri dan kanan, bentuk sanggul seperti sanggul eepol di kanan kiri tepat di bawah telinga.
7. Sanggul Dua Kepang: Umumnya dipakai oleh wanita muda, sebagai pelengkap semua jenis kebaya Betawi, pemakaian sanggul ini dilengkapi dengan perhiasan rose merah cerah di sebelah kanan. Cara membuatnya: rambut dibelah tengah, dibagi dua lalu dikepang berdekatan, masing-masing dililit menyerupai pagar berbentuk oval.
8. Sanggul Lilit Kepang (Radio): Umumnya dipakai wanita muda, sebagai pelengkap semua jenis kebaya Betawi. Sanggul ini dilengkapi dengan bunga rose di sebelah kanan. Cara membuatnya: sama dengan sanggul kepang dua.
9. Sanggul Kabel: Umumnya dipakai wanita muda sebagai pelengkap semua jenis kebaya Betawi yang dilengkapi dengan bunga rose warna merah. Cara membuatnya: Rambut pendek sebatas bahu atau sedikit panjang, dibelah pinggir dan diberi jambul. Sebelah kanan kiri dijepit. Kawat atau kabel sepanjang 40 cm yang ditekuk dua digulung pada rambut sampai dekat telinga sehingga sanggul menyerupai gelung panjang.
10. Sanggul Cioda: Umumnya dipakai oleh wanita muda dengan semua jenis kebaya Betawi. Dengan dua tusuk konde di kiri kanan dan tusuk konde lain di tengah. Cara membuatnya: Seperti sanggul bunder tetapi sanggul ditarik ke samping sampai dekat telinga. Rambut di belah tengah, dijepit kiri kanan.
11. Sanggul Federal: Umumnya dipakai oleh wanita muda dipakai dengan semua jenis kebaya Betawi. Dilengkapi dengan disunting di tengah-tengah sanggul. Cara membuatnya: Konde kabel yang dibulatkan seperi kue donat (seperti sanggul kabel).
pelengkap busana
TERNYATA tusuk
konde tak cuma pemanis sanggul saja. Konon, ada makna yang terkandung
di baliknya yakni kandungan nilai-nilai filosofis budaya bangsa. Tak
percaya? Yuk, simak!
Seperti diketahui, tusuk konde itu sudah ada berabad-abad lamanya. Alat yang umumnya digunakan sebagai penyanggakh sanggul dan juga perhiasan di sanggul. Dan, sanggul atau konde umumnya dipakai sebagai pelengkap berbusana daerah.
Keanekaragaman budaya bangsa Indonesia ternyata menghasilkan berbagai bentuk,desain, serta penggunaan bahan baku dalam pembuatan tusuk konde ini. Maka akan ditemui beragam tusuk konde yang mencirikan khas Indonesia.
IstimewaJika
dicermati secara detail, desain serta bentuk fisik sanggul atau konde
di seluruh daerah memiliki ciri khas tersendiri. Sepeti tusuk konde
‘Sirkan’ yang dipakai di Jawa Barat, Jawa Timur dan Aceh. Perbedaan
jelas terlihat dari bentuk dan motifnya. Dimana motif maupun bahan yang
digunakan umumnya sesuai dengan budaya dan kondisi masyarakat setempat.
IstimewaSaat
ini, tusuk konde tak cuma dikenakan saat menghadiri upacara adat, tapi
saat-saat tertentu seperti ulangtahun, arisan, maupun untuk acara-acara
non formil lainnya. Dengan demikian peminatnya tak cuma kaum wanita usia
tertentu atau dari kalangan tertentu saja tapi bisa dari kalangan tua
maupun muda. Buktinya, beberapa remaja yang berambut panjang, acap
mengenakan tusuk konde sebagai penghias rambutnya.
IstimewaSelaras dengan itulah, Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), terinspirasi untuk mengadakan pameran bertajuk Mutumanikam 2009 yang digelar di Jakarta. Tusuk konde yang akan dipamerkan merupakan koleksi dari para kolektor. Dengan acara ini diharap pemakaian tusuk konde akan meningkat sehingga produksi pun meloncak dan kondisi ini akab berakibat peningkatan ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut Ibu Ani Yudhoyono akan ikut pula memamerkan beberapa koleksinya. Diharap mampu menginspirasi para pengrajin atau siapapun untuk berkarya.
Istimewa“Melalui
acara ini diharap mampu mengangkat dan memperkenalkan salah satu
filofis bangsa kepada dunia. Selain itu juga diharap dapat menjadi
stimulan bagi para pengrajin mengingat keberadaan pengrajin tusuk konde
makin sulit ditemui,” ujar Ny.Hatta Rajasa.
Padahal, bahan baku yang digunakan untuk memproduksi tusuk konde ini banyak menggunakan batu-batuan mulia dan bahan tambang yang melimpah ruah di kawasan nusantara. Selain itu, menampilkan juga ingin menampilkn para pengrajin Indonesia yang pastinya banyak di bumi ini.
Seperti diketahui, tusuk konde itu sudah ada berabad-abad lamanya. Alat yang umumnya digunakan sebagai penyanggakh sanggul dan juga perhiasan di sanggul. Dan, sanggul atau konde umumnya dipakai sebagai pelengkap berbusana daerah.
Keanekaragaman budaya bangsa Indonesia ternyata menghasilkan berbagai bentuk,desain, serta penggunaan bahan baku dalam pembuatan tusuk konde ini. Maka akan ditemui beragam tusuk konde yang mencirikan khas Indonesia.
IstimewaSelaras dengan itulah, Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), terinspirasi untuk mengadakan pameran bertajuk Mutumanikam 2009 yang digelar di Jakarta. Tusuk konde yang akan dipamerkan merupakan koleksi dari para kolektor. Dengan acara ini diharap pemakaian tusuk konde akan meningkat sehingga produksi pun meloncak dan kondisi ini akab berakibat peningkatan ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut Ibu Ani Yudhoyono akan ikut pula memamerkan beberapa koleksinya. Diharap mampu menginspirasi para pengrajin atau siapapun untuk berkarya.
Padahal, bahan baku yang digunakan untuk memproduksi tusuk konde ini banyak menggunakan batu-batuan mulia dan bahan tambang yang melimpah ruah di kawasan nusantara. Selain itu, menampilkan juga ingin menampilkn para pengrajin Indonesia yang pastinya banyak di bumi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)